Minggu, 06 Januari 2013

Rain in the Morning


Kehidupan, aku berusaha membaca kehidupan. Bagiku, kehidupan memang seperti ini. Kalau ditanya apakah aku bahagia? Tentu aku sekarang bahagia.. Di usia yang sudah tidak muda lagi ini, tak perlu lagi memaki-maki nasib atau menyalahkan nasib yang lalu.





Ada banyak hal yang akhir-akhir ini berkecamuk dalam pikiranku. Capek, lelah, tentu saja. Tapi, bagiku, menghirup udara setiap pagi adalah anugerah yang tak mungkin aku ingkari. Anugerah terbesar. Di luar itu, tentu masih ada berjuta-juta anugerah lainnya.

Pagi ini, layaknya pagi-pagi pada hari-hari sebelumnya, hujan turun mengguyur pulau kecil ini. Pulau dimana saat muda dulu aku mulai mimpi-mimpiku. Saat-saat muda yang menggelegar, saat-saat muda yang membara. 

Kini, seperti yang kubilang tadi, masa yang sudah tidak muda itu pada akhirnya datang. Datang tanpa memberikanku kesempatan untuk sejenak mengingat kenangan-kenangan yang sempat tercecer. Kenangan tentang si kecil dan Ibunya yang memilih untuk menapak jalan lain.

Aku sesungguhnya ingin menangis. Tapi, aku malu. Malu pada kenyataan, malu pada diri sendiri. Banyak orang berkata, paling tidak, dengan menangis, semua beban yang ada di jiwa ini bisa berkurang. Aku percaya itu. Aku tidak menyangkal. Tapi, itu tidak tepat bagiku. Biarlah cukup berdiam saja. Bagiku, dalam diam, ada banyak hal yang bisa larut. Larut dalam kepasrahan, larut dalam keheningan. Begitu nikmat meski kadang sakit.

Aku masih memandang hujan yang turun. Dengan dibarengi suara menggelegar dari temannya hujan, guntur (lidah Bawean ngomongnya se itu). Terdengar melankolis memang. Haha, seperti salah satu adegan di banyak film. Tapi, memang tidak ada yang bisa kulakukan disaat seperti ini. Entah kenapa, hujan di pagi ini begitu indah. Begitu sendu. Hujan seperti ingin menyampaikan banyak hal. Tentang sebuah perjalanannya, rasa sakitnya, yang turun ke bumi, kemudian lenyap, mengalami siklus lingkaran jebakan yang sangat melelahkan.

Achhhhh, itu mungkin hanya imajinasiku saja. Hujan kusamakan dengan perjalanan hidupku. Yang terasa panjang, seakan-akan berputar-putar pada lingkarang yang tak pernah ada akhir. Terus melangkah tapi tak pernah sampai pada tujuan. Kalau banyak orang berkata proses lebih penting daripada tujuan. tentu sekarang aku sudah memenangkannya. 

Sedikit demi sedikit, hujan di pagi ini seakan-akan menyampaikan suatu mimpi bagiku. Mimpi untuk bangkit. Mimpi untuk berjuang. Mimpi untuk segalanya. Dengan berhenti sejenak dengan turunnya hujan, kita dapat merenung dalam diam kita. Kita dapat membuat planning untuk hidup kita selanjutnya. Kita tidak boleh berhenti dikarenakan hujan turun dengan derasnya.

Hujan di pagi ini membuat aku berfikir, pasti ada hikmah, pasti ada proses untuk menuju mimpi yang sebelumnya mungkin tidak akan tercapai. Melihat kebelakang mengenai kisah hidupku yang sedikit banyak goresan, menyedihakn, pilu. Tentu sudah cukup menyentuh bukan? Hanya, sampai kapanpun, seberapapun menyedihkan, jangan pernah jadikan kisah hidupku ini sebagai lelucon. Sungguh sangat memilukan hati ini. Kalaupun kisah ini harus dikenang, kenanglah sebagai salah satu mozaik dari kisah kehidupan anak manusia yang terus berjuang hingga saat terakhirnya.

Terlalu berlebihan kadang diriku. Kalaupun mau, aku sebenarnya ingin menertawakan kalian. Kalian yang hanya memandangku pilu. Sekali lagi, aku tak pernah menderita seperti selama ini yang kalian kira. Aku punya banyak hal yang bisa kuceritakan.

Hujan pun mulai reda, aku merasa lega. Merasa tenang. Merasa damai. Merasa lepas. Hingga mimpi itu dapat kuraih.....

flashback --------->>>> Sabtu, 5 Januari 2013
  • di kamar ngerjain tugas..... liburan kok kerja, capek dewh!!!
  • rutinitas harian berjalan dengan sukses..... achhh segeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar